Posts

Biarkanlah

Biarkanlah aku mengiris bulan, Agar si pungguk tak lagi merindukannya Biarkanlah aku menenggak hujan, Agar bunga-bunga tak lagi membutuhkannya Biarkanlah aku menyapu lautan, Agar pelaut tak lagi tenggelam dipelukannya Maka biarkanlah kubunuh rasa kasmaran, Agar hati tak lagi patah karenanya (2016)

Kembali

kata orang, selama kau cinta, celaka pun tampak sempurna kata orang, selama kau ikhlas, cemooh pun tak membuatmu terbatas kata orang, selama kau niat, setitik pun tak terasa penat aku tak akan berkata ini semua hanya sajak pelipur lara aku berhipotesa bahwa semua hal butuh massa tak terkecuali ketika kau niat, ikhlas, atau cinta lalu bagaimana jika ide-ide gila dikepala ini selalu kalah oleh tupoksi? terkubur jauh-jauh dalam lubang bernama tradisi ketika mencoba lahir selalu gagal dan mati mereka bilang, ingatlah pada rumah yang membuat raga berdiri tegak di atas tanah dan jika mereka  berniat membuatku terbang mengapa mereka  juga yang mengurung aku di dalam kandang? orisinalitas memang pantas dipertahankan tetapi bukankah laporan praktikum-mu saja tak luput dari revisian? coba pahami lagi makna denotasi dari "tradisi" atau jangan salahkan aku jika aku tak kembali

Sajak Delusi

memangnya aku ini siapa tak lebih berguna dari sehelai benang pada sandangmu tak lebih indah dari bunga di teras kamarmu memangnya aku ini siapa bahkan angin ribut lebih merdu dari suaraku dan rumput yang bergoyang terlalu gemulai dibandingkan dengan tingkahku memangnya aku ini siapa berani jatuh cinta pada orang sepertimu? (2016) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ benarkah jika aku berkata kalau-kalau kebahagiaan merupakan suatu hukuman, karena kita telah terlalu lama menari-nari di atas kesedihan?  karena bentuk nyata kehidupan adalah rasa sakit. kebahagiaan membuat kita terlihat hidup tetapi tak merasa hidup. dan kenestapaan membuat kita tak terlihat hidup tetapi merasa hidup. bayangkan saja saat dadamu terasa sesak dan bulir-bulir air jatuh dari kedua matamu,  atau saat perutmu terkocok dan senyum tersungging di bibirmu. manakah yang membuatmu ...

Gembala Domba

Untuk apa meraih bintang, jika menjadi debu saja sanggup membawamu pulang? Untuk apa menanti senja, jika pagi saja tak tega membuatmu durja? Untuk apa bermimpi menjadi merpati, jika menjadi ayam pun tak membuatmu mati? Engkau mengajarkan aku bahwa suatu perkara tak hanya dapat terselesaikan dengan solusi Engkau menyadarkan aku tentang keindahan menerima tatkala aku sibuk mencari Engkau menganjurkan aku untuk menutup pintu ketika aku bersikeras untuk membukanya Terkutuklah aku jika mengaku tak terlena dengan segala puji-pujianmu Hinalah aku jika mengaku tak bahagia tatkala menangkap senyummu Munafiklah aku jika mengaku telah melupakan saat kita pertama berbalas kata Hari telah senja, dan domba sudah kembali ke dalam kandangnya Apakah aku harus tinggal dan menunggu kau datang membawa domba lainnya, wahai Gembala? Jika kau hendak menjawab ya, maka aku memilih untuk hilang dan pergi sejauh-jauhnya Agar kelak kau akan pergi mengejarku lebih lama lagi M e n g a ...

Hujan (part 2)

"Badai.. Badai.. Cepat masuk dan berlindung!" dan aku tak mengindahkannya. "Apa yang kelak akan kau terima, yang kiranya sepadan dengan segala kebodohan yang kau lakukan kini, wahai makhluk penantang badai?" dan aku tetap berdiri kokoh menantikan getirnya. "Jangan terlalu naif, wahai makhluk yang terlalu percaya pada rintik-rintik tangisan langit! Kini, esok, atau seratus tahun dari sekarang surga nya tak akan pernah menjadi surga mu!" dan bodohnya aku masih percaya akan bahagia. Tulisan ini ditujukan kepada hujan,  yang tak hanya membasahi tanah penuh humas, atau menyuburkan bunga-bunga indah di atas bumiku, tetapi juga membuatnya tergenang air, dan membuat tebing-tebing pertahananku longsor, Tulisan ini ditujukan kepada hujan, yang terlihat sangat ramah dan mampu kurengkuh, tetapi kontra dengan realita yang adalah sebaliknya Karena ketika badai itu datang, aku benar-benar mati. Aku tak bisa membedakan ...

Hujan (part 1)

"Dan kuharap, menjadi bagianmu. Ku bisa gila, tak berharap Dan kuharap, menjadi harapanmu. Ku bisa gila..." Matanya. Demi Tuhan, semua surga yang aku bayangkan dalam benakku tergambar secara isometri dalam keindahan matanya. Seperti bulir-bulir air yang jatuh dari langit yang mendung. Dan aku tengah menikmati gigilan serta kertak gigi yang sengaja diciptakan karenanya. Herankah dirimu? Padahal kukira bentuk surga itu tergambar apik bak bintang, pelangi, atau matahari yang mampu membuat orang tersenyum dan mengeluarkan kata pujian. Tetapi ternyata surga di matanya lebih dari sekedar itu. Terlalu nyata menyaingi sinar matahari, terlalu gelap menyaingi terangnya bintang, terlalu muram menyaingi cerianya pelangi. Itulah surgaku. Hujan. Pernahkah kalian memandang langit dan menantang namanya?  Atau bersikap sarkastik karena merasa sangat dirugikan karenanya? Jika ya, maka enyahlah dirimu! Kamu tidak tau betapa dahaganya diriku akan airnya! Salahkah j...

A Letter For Another Star

" But I wonder where were you, when I was at my worst, down on my knees? And you said you had my back. So I wonder where were you, when all the roads you took came back to me? " Bintang lagi. Kali ini tentang bintang lagi. Namun, aku tak mengingkari janjiku--karena ini tentang bintang lain. Bintang yang berbeda tetapi memiliki sinar yang sama terangnya. Bintang yang memilih untuk tetap tinggal dan menyinari bumi sementara bintang yang lain tengah pergi ke tempat yang sangat jauh. Bintang yang tidak kalah indah dengan bintang temannya. Bintang yang mampu menunjukkan kepada dunia definisi namanya yang sesungguhnya.  Namun ada hal yang tetap sama, dia tidak pernah menjadi bintang-ku. Meskipun aku pernah merasa memilikinya selama beberapa waktu. Sekarang biarkan aku mengungkapkannya; lagi, lagi dan lagi. Supaya kamu tau, bahwa ia memang ada disana, walaupun sebenarnya aku tau dia tak ada. Bahwa ia benar mengerti, walaupun aku tau pengertian itu hanyalah kata-kata ...