A Letter For Another Star


Kali ini tentang bintang lagi. Namun, aku tak mengingkari janjiku--karena ini tentang bintang lain. Bintang yang berbeda tetapi memiliki sinar yang sama terangnya. Bintang yang memilih untuk tetap tinggal dan menyinari bumi sementara bintang yang lain tengah pergi ke tempat yang sangat jauh. Bintang yang tidak kalah indah dengan bintang temannya. Bintang yang mampu menunjukkan kepada dunia definisi namanya yang sesungguhnya. 

Namun ada hal yang tetap sama, dia tidak pernah menjadi bintang-ku. Meskipun aku pernah merasa memilikinya selama beberapa waktu.

Sekarang biarkan aku mengungkapkannya; lagi, lagi dan lagi. Supaya kamu tau, bahwa ia memang ada disana, walaupun sebenarnya aku tau dia tak ada. Bahwa ia benar mengerti, walaupun aku tau pengertian itu hanyalah kata-kata klise untuk menyembuhkan hati secara temporer. Bahwa ia akan mengadahkan kedua tangannya untuk menangkapku, walaupun aku tau ia juga akan melakukannya untuk semua debu. Bahwa ia akan turun ke bumi dan mengambilkan bulan untukku, walaupun aku tau ia hendak memberimu matahari jika kamu memang memintanya.

Lalu sekarang apa? Aku membutuhkannya, itu fakta. Aku mengerti betul tentang semua ini, karena ia benar-benar akan ada disana ketika aku berteriak dengan suara merintih. 

Tetapi tahukah kamu bagian terburuknya? Ia tidak membutuhkanmu, bahkan untuk masalah sebesar makhluk purba atau seluas samudera pasifik. Baginya kamu hanya debu kecil yang harus dilindungi.
Lantas mengapa kau mampu mengatakan hal yang menyejukkan hati itu, jikalau pada akhirnya kamu akan mengatakannya kepada semua orang yang membutuhkanmu? Apakah benar jikalau aku kurang layak untuk mendengar segelintir dari kisah-kisah hebatmu? Ataukah kau menganggapku tak mampu dalam membantumu terbang lebih tinggi? Ketahuilah wahai bintang, meskipun aku hanya seonggok debu, menerbangkanmu di mata orang lain adalah keahlianku. Walaupun itu akan menyebabkanku jatuh lebih dalam dan dalam lagi terlibas sinarmu.

Malukah aku pada langit, Bintang? Karena tampaknya sebiru-biru warna langitmu tak mampu mengalahkan birunya hatiku. Atau segelap-gelapnya malam milikmu tak mampu mengalahkan sisi tergelapku yang kugunakan untuk menyayangimu. Sejujurnya aku malu, Bintang. Aku merasa sangat bodoh dan tak tau diri. Siapa pula yang berani menantang langit bermain warna? Komponen mana yang mampu menyaingi keindahan langit itu? Bayangkan bagaimana wajah manusia-manusia itu ketika aku menyebutkan namaku. Hening. Bukan hening takjub, tapi hening karena kebodohan yang menguasai setiap sudut otakku.

Sebenarnya apa yang diinginkan oleh sebutir debu sepertiku, Bintang? Melihat dirimu yang sudah berbaik hati untuk berkunjung ke bumi, menyebarkan sinar-sinar terang dan senyum kecilmu, dan ia berani untuk meminta lebih banyak lagi? Menantang langit dan memohon pada awan? Marahkah kau padaku, Bintang? Pada sikapku yang tidak sopan ini?

Semua makhluk hidup; manusia, hewan, tumbuhan, mikroorganisme di seluruh alam raya dapat menyakitiku dengan hak penuh, tetapi di dalam bumi ini mengapa itu harus dirimu?

Tetapi jangan pernah hiraukan semua tulisanku diatas jika engkau membacanya wahai bintang. Karena aku akan selalu merasa tersakiti. Melihatmu hidup dan berbahagia bukan karena diriku saja dapat membuatku mengeluarkan setengah persediaan air mataku. Bahkan tampaknya menyakiti diriku sendiri saja tak cukup untuk mengenyangkan aku akan rasa sakit. Menyeramkan bukan, Bintang? Seperti masochist mereka bilang. Lapar akan rasa sakit. Selalu menganggap segala sesuatunya menyakitkan.

Aku baru membuat tiga tulisan hinaku untukmu. Jadi apakah kamu sudah muak sekarang? Aku tak akan memaksamu untuk tetap berada disini lagi. Karena aku tak ingin kamu mendapat masalah karena keegoisanku yang seperti ingin menguasai setiap sudut dari langit. Kamu tidak pernah menyakitiku, Bintang. Aku tau kamu tidak akan tega, setelah kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri apa yang dilakukan bintang saudaramu itu kepada debu sepertiku. Tapi ingatlah akan suatu hal, aku membiarkanmu masuk. 

Dan apapun yang kubiarkan masuk akan menghancurkanku, bahkan ketika kamu berusaha untuk tidak melakukannya. Itu adalah hukum alam, kamu akan hancur dan akan tergantikan dengan yang lain. Lalu yang lain akan menghancurkanmu lagi.
Jika dihancurkan olehmu adalah cara terindah untuk menyayangimu maka biarkanlah itu terjadi. Aku akan bahagia karenanya, aku tak akan melewatkannya satu detik pun. Bahkan seperdetik pun.

I remember when you meant nothing to me. I wasn't aware of your existence. But now you're the reason I have this awful bags under my eyes; I stay up till 4 AM thinking about you. It's bizarre how a person could mean nothing to you but in a matter of hour, days, weeks, or months, they could mean the world to you. Even if they make your heart drown in a sea of sorrow and leave a hurricane of bittersweet memories of a friend behind.

Ya bintang. Aku menyayangimu setengah hidup, dan aku rasa kamu tahu seperti apa bentuk sayang itu. Biar kuperjelas lebih dalam lagi ya? Aku jatuh cinta padamu. Inilah inti dari semua tulisanku hari ini.


Selamat malam, Bintang. Bersinarlah lebih terang lagi.


10 Juli 2014

Debu yang menyedihkan

Popular posts from this blog

Letters That Were Never Sent (Part 1)

Letters That Were Never Sent (Part 3)

Letters That Were Never Sent (Part 2)