Sajak Delusi

memangnya aku ini siapa
tak lebih berguna dari sehelai benang pada sandangmu
tak lebih indah dari bunga di teras kamarmu

memangnya aku ini siapa
bahkan angin ribut lebih merdu dari suaraku
dan rumput yang bergoyang terlalu gemulai dibandingkan dengan tingkahku

memangnya aku ini siapa
berani jatuh cinta pada orang sepertimu?

(2016)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
benarkah jika aku berkata kalau-kalau kebahagiaan merupakan suatu hukuman, karena kita telah terlalu lama menari-nari di atas kesedihan? 

karena bentuk nyata kehidupan adalah rasa sakit.
kebahagiaan membuat kita terlihat hidup tetapi tak merasa hidup.
dan kenestapaan membuat kita tak terlihat hidup tetapi merasa hidup.

bayangkan saja saat dadamu terasa sesak dan bulir-bulir air jatuh dari kedua matamu, 
atau saat perutmu terkocok dan senyum tersungging di bibirmu.
manakah yang membuatmu merasa lebih hidup?
merasa bahwa segala candu yang tersaji di depanmu merupakan suatu bagian dari omong kosong berkedok "hidup"?

aku berani menjamin kau akan menjawab kesedihan.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
lalu, salahkah aku bila aku merasa terhukum dengan semua ini?
kenyataan bahwa aku tak mampu disandingkan dengan masa lalumu, tetapi berani berharap mendapat tempat untuk mengisi masa depanmu.

karena kau membebaskan aku dari belenggu yang kusebut hidup,
dan seolah-olah hendak merubah manifestasiku tentangnya.

haruskah aku berterima kasih pada Tuhan, karena telah mengirimkan manusia sepertimu untuk seseorang sepertiku?
atau haruskah aku marah pada diriku sendiri, karena terlalu delusional?

dan tiba-tiba kau berkata kau jatuh cinta padaku.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
kau jauh lebih berharga dari oksigen yang kuhirup.
bintang di langit tak mampu menyaingi kilau matamu.

pelukanmu lebih hangat dari sinar matahari pagi
kau jauh lebih indah dari hujan di hari senja.

kau membuat semua imaji yang selama ini melompat-lompat di benakku menjadi realitas.
meruntuhkan dinding-dinding konsep yang selama ini kubangun, membuatku tak berdaya hanya karena melihat senyummu.

kau bukanlah subjek dalam puisiku,
kau adalah puisi itu.

jangan pergi, jangan mati, jangan sampai kau termiliki
aku ingin berada di dekatmu, sedekat nadi

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Popular posts from this blog

Letters That Were Never Sent (Part 1)

Letters That Were Never Sent (Part 3)

Letters That Were Never Sent (Part 2)