Timur - The Adams
Hari ini saya mendengarkan lagu Timur dari The Adams di perjalanan ke kantor, yang seharusnya menjadi lagu pernikahan kita di bulan Oktober di tahun ini. Saya masih mengingat dengan sangat jelas saat lagu itu berkumandang melalui earphone yang saya pakai, di hari Minggu sore itu, ketika kita mengunjungi tempat yang seharusnya menjadi tempat kita mengucapkan janji sehidup semati. Sebuah glass house kecil yang benar-benar merepresentasikan gambaran pernikahan impian, yang selalu saya bayangkan sejak duduk di bangku sekolah. Dan saya juga masih ingat ekspresi wajahmu, ketika menjelaskan kebiasaan aneh saya kepada pegawai yang mengantarkan kita: "Tidak apa-apa Pak. Dia memang harus membayangkan entrance nya sambil mendengarkan lagu", yang kemudian ia amini dengan anggukan kikuk.
Kemudian, kenangan itu berganti dengan ingatan tentang satu kalimat penutup yang kamu ucapkan di malam itu, saat akhirnya kita sama-sama sepakat untuk berhenti memperjuangkan apa yang telah kita jaga selama hampir dua tahun: "Kamu itu duniaku, tapi aku hanya salah satu dari duniamu", yang herannya, makna dibaliknya baru saya sadari saat ini. Tentang bagaimana kamu menjadikan saya satu-satunya, mengorbankan hampir seluruh kepentinganmu untuk saya, dan terus-menerus meyakinkan saya bahwa kita bisa bersama, dengan seluruh perbedaan besar yang kita miliki. Sementara bagi saya yang memiliki banyak dunia: keluarga, pekerjaan, relasi, ambisi, mimpi, olahraga, kamu hanyalah salah satu di dalamnya.
Saya pernah mengira kalau bagian terbaik dari sebuah hubungan adalah ketika memiliki pasangan yang cintanya jauh lebih besar daripada diri kita sendiri. Bahkan, mendiang ibu saya pun berpesan hal yang sama beberapa saat sebelum ia meninggal, agar saya bersama orang yang sangat dan lebih mencintai saya. Pun saya akui untuk hal ini, saya yakin pemenangnya pun kamu. Bagaimana tidak, siapa lagi orang yang cukup sabar menunggu hampir setengah tahun, untuk orang yang tidak benar-benar ada dan tidak benar-benar pergi, dan tetap memiliki keberanian untuk bertanya apakah ia boleh memilikinya? Meskipun saya berkali-kali berkata kalau saya masih memiliki perasaan kepada orang lain. Menyakiti hatimu dengan berkata saya tidak mencintaimu, yang selalu kamu yakini semuanya akan bertumbuh seiring waktu.
Pada akhirnya, saya mungkin perlu meminta maaf karena saya tidak bisa mencintaimu sebaik kamu mencintai saya. Yang membuat saya akhirnya mengerti, mungkin itu satu-satunya alasan akhirnya kamu terus merasa kehilangan dirimu sendiri, membuatmu harus mengalami seluruh ketakutan akan kehilangan saya, hanya karena kamu terus berusaha untuk merasa layak untuk saya cintai. Saya pun tidak akan pernah menyalahkan kekecewaanmu, saya sendiri pun juga kecewa, karena pada akhirnya perasaan itu tidak pernah tumbuh sempurna, bahkan hingga semua ini berakhir juga.
Ketika kamu menghubungi saya semalam untuk bercerita tentang seseorang yang kamu temui, yang pada akhirnya kamu putuskan untuk pilih, perasaan saya benar-benar lega. Mengetahui pada akhirnya kamu bertemu orang yang tidak akan lagi membuatmu terus menerus mengaktifkan sistem syarafmu, hingga selalu membuatmu cemas sampai hampir mati.
"Ia hanya izin ke Bandung wisata kuliner bersama teman-teman perempuannya, bukannya ke Swiss untuk solo trip tanpa itinerary lalu loncat dari pesawat."
"Ia juga berolahraga, tapi bukan Triathlon, hanya Pilates dan Yoga. Jadi aku tidak perlu pulang konser jam 10 malam cuma karena besoknya ia harus lari jam 5 pagi. Kelas Pilates nya jam 10 pagi."
"Aku dan dia tidak perlu bertengkar di mobil, dia mendengarkan Enola dan The Story So Far juga. Bukannya Honne atau Juicy Luicy."
"Ia menyelesaikan pekerjaannya satu-satu, bukan lima sekaligus sepertimu."
Saya benar-benar tertawa mendengarnya, meskipun dalam hati saya berpikir, ternyata dulu, dengan menjadi diri kita sendiri, kita benar-benar menyakiti satu sama lain ya? Bahkan rasa sayang dan sifat baik saja tidak dapat mampu menolongnya. Sisa-sisa beban emosional pun masih melekat, ketika saya mengingat seluruh perjuangan kita: memecahkan setiap masalah dengan cara komunikasi kita yang berbeda, banyaknya air mata yang harus keluar hanya untuk berkompromi, hingga kata-kata menyakitkan yang akhirnya terpaksa kita lontarkan satu sama lain hanya untuk menang. Dimana seluruhnya selalu bermuara ke satu kesimpulan yang sama: mungkin keyakinanmu tentang perbedaan kita yang saling melengkapi, ternyata ada salahnya juga.
Rasa-rasanya saya belum benar-benar berterima kasih kepadamu atas semua kebaikan yang telah kamu berikan kepada saya. Sampai saat ini pun saya merasa yakin sepenuhnya, bahwa kamu adalah orang yang baik, dan berhak menerima segala kebaikan di dunia. Tapi lagi-lagi, seperti kata terapis pra-pernikahan kita: tidak semua orang yang baik adalah juga orang yang kita butuhkan. Saya pun yakin kata-katamu tentang saya juga mewakili, tentang bagaimana kamu selalu bangga memiliki perempuan seperti saya, tetapi sebenarnya dalam hati tidak pernah benar-benar bahagia.
Namun biar bagaimanapun kita juga telah menjalani banyak suka duka, hingga menyusun masa depan bersama. Meskipun dalam menjalaninya, kita harus mengorbankan banyak hal dari diri kita masing-masing yang pada akhirnya membuat kita juga kehilangan diri sendiri. Aku bangga setidaknya kita sudah pernah mencoba melakukannya, dan baik saya ataupun kamu harusnya sepakat bahwa kadar usahanya sudah sama-sama besar porsinya. Walaupun akhirnya tidak seperti prediksi kita bersama.
Hari ini saya mendengarkan lagu Timur dari The Adams di perjalanan ke kantor, yang seharusnya menjadi lagu pernikahan kita di bulan Oktober di tahun ini. Saya masih mengingat dengan sangat jelas tangisanmu semalam, ketika saya akhirnya berkata saya juga telah cinta pada orang lain. Tangisan yang akhirnya diikuti oleh marahmu tentang bagaimana mungkin itu terjadi dalam waktu kurang dari sebulan, ketika kamu mati-matian berusaha membuat saya menyayangimu hingga kurang dari dua tahun.
Mungkin setelah ini pada akhirnya kamu akan membenci saya, menganggap seluruh hal yang telah kamu lakukan tetap saja sia-sia, memaki saya karena begitu sulitnya membuat saya jatuh cinta, dan seluruh ketakutanmu selama ini menjadi nyata. Namun, memang satu hal yang saya tau, di hari Minggu itu, ketika saya melihat sebuah glass house kecil yang benar-benar merepresentasikan gambaran pernikahan impian saya, saya memang tidak pernah melihat kamu berada di dalamnya.