Surat Untuk Tuhan
Surat ini ditujukan untuk sang pencipta
Pencipta yang katanya maha esa
Meskipun yang kukenal selama ini ada dua
Surat ini ditujukan untuk tuhan
Tuhan yang katanya sumber kebahagiaan
Mesikpun aku selalu merasa terhakimi oleh firman-firman
Tuhan jangan marah
Aku telah mengenalmu sebagai sosok pemisah
Mengapa Ia harus meminta sambil berlutut
Ketika Ia yang lain lebih memilih untuk bersujud
Sebentar lagi hari raya tiba
Bukankah harusnya kami pergi sekeluarga
Mengapa kau biarkan aku pergi sendiri
Seakan merayakannya bersama hanyalah mimpi
Tuhan jangan kesal
Nanti Ia tak berhenti menyesal
Aku tak tega melihatNya menangis
Padahal hatiku lebih teriris
Aku tak apa disebut kafir
Tapi jangan salahkan aku yang mangkir
Aku biasa disebut hasil zinah
Tapi jangan marah ketika aku tak memilih arah
Tuhan jangan benci
Katamu kita harus saling mengampuni
Setidaknya aku bukan menolak bicara padamu
Aku hanya melakukannya dengan caraku
Harusnya aku yang murka!
Sekali lagi kau rubah hidupku jadi hampa!
Tahun ini Ia berkata telah belajar mengaji
Padahal kemarin kami masih antre mengambil hosti
Tuhan kamu dimana?
Apakah kamu benar ada?
Atau memang kamu ada dua?
Doaku masih sama setiap tahunnya
Yang kuucapkan sejak duduk di kelas tiga
Untuk pergi merayakan hari raya
Bersama sekeluarga
Tanpa harus berbeda
Mungkin belum waktunya
Dan untuk kamu yang sedang dimabuk cinta
Pikirkan lagi jika kalian berbeda
Ini bukan tentang dia atau kamu
Ini tentang kami, anak-anakmu
Malang, 19/12/2017
20.28
Pencipta yang katanya maha esa
Meskipun yang kukenal selama ini ada dua
Surat ini ditujukan untuk tuhan
Tuhan yang katanya sumber kebahagiaan
Mesikpun aku selalu merasa terhakimi oleh firman-firman
Tuhan jangan marah
Aku telah mengenalmu sebagai sosok pemisah
Mengapa Ia harus meminta sambil berlutut
Ketika Ia yang lain lebih memilih untuk bersujud
Sebentar lagi hari raya tiba
Bukankah harusnya kami pergi sekeluarga
Mengapa kau biarkan aku pergi sendiri
Seakan merayakannya bersama hanyalah mimpi
Tuhan jangan kesal
Nanti Ia tak berhenti menyesal
Aku tak tega melihatNya menangis
Padahal hatiku lebih teriris
Aku tak apa disebut kafir
Tapi jangan salahkan aku yang mangkir
Aku biasa disebut hasil zinah
Tapi jangan marah ketika aku tak memilih arah
Tuhan jangan benci
Katamu kita harus saling mengampuni
Setidaknya aku bukan menolak bicara padamu
Aku hanya melakukannya dengan caraku
Harusnya aku yang murka!
Sekali lagi kau rubah hidupku jadi hampa!
Tahun ini Ia berkata telah belajar mengaji
Padahal kemarin kami masih antre mengambil hosti
Tuhan kamu dimana?
Apakah kamu benar ada?
Atau memang kamu ada dua?
Doaku masih sama setiap tahunnya
Yang kuucapkan sejak duduk di kelas tiga
Untuk pergi merayakan hari raya
Bersama sekeluarga
Tanpa harus berbeda
Mungkin belum waktunya
Dan untuk kamu yang sedang dimabuk cinta
Pikirkan lagi jika kalian berbeda
Ini bukan tentang dia atau kamu
Ini tentang kami, anak-anakmu
Malang, 19/12/2017
20.28