Posts

Untuk Laki-Laki yang Tak Pernah Ada Dalam Pelukan

Kamu lebih suka kutulisi apa? Puisi atau prosa? Dengan jujur atau dusta? Bagiku keduanya sama saja Sama-sama sulit untukku merangkai kata Tak seperti biasa Ketika aku mengolah diksi dengan lancarnya --- Andai Danilla adalah aku Mungkin kau sudah membukakan pintu Maka hatiku tak harus pilu Menebak-nebak apa isi kepalamu Andai perempuan itu adalah aku Mungkin kelak kau akan pakai batik ke rumahku Maka aku tak perlu banyak-banyak rindu Berharap berpapasan denganmu di depan pintu --- Kau terlalu indah untuk dilihat Nasihatmu dapat menghilangkan segala penat Ceritamu membuatku penasaran hebat Teduhmu mampu menghilangkan beban berat Tapi, aku takut bilang suka! Nanti malah kau tanyai apa parameternya Lagipula untuk apa Kita juga tak akan bersama --- Hey, jangan terlalu baik! Nanti aku panik! Disini masih banyak perempuan cantik Aku tak mau jumlah sainganku naik Dan jangan terlalu pintar! Bicaramu dapat membuat hati berg...

Aku Tidak Pernah Menangis

Aku tidak pernah menangis. Mungkin sekali, sewaktu aku baru saja terbebas dari rahim ibuku dan hendak menghirup oksigen di bumi untuk pertama kalinya. Namun, aku dapat menjamin setelah hari itu aku tidak pernah, dan tidak akan pernah menangis. Lagipula, hal seperti apa yang dapat membuat seorang dengan kehidupan sepertiku meneteskan air mata? Tetapi, nyatanya kalimat-kalimat di atas tidak lagi berlaku. Tidak, sampai aku melihat kabut pada kedua matamu kala itu. Saat kau berusaha untuk tertawa, sambil menyembunyikan lebam di lengan kirimu. "Tapi, aku mencintainya." Kau selalu mengatakannya, berulang-ulang kali di depanku. Seakan tak peduli bahwa ia tidak hanya menyiksa jiwamu, tetapi juga tubuh indahmu. Oh, demi Tuhan, apa yang kau cari dari laki-laki seperti itu? Laki-laki yang kerap memaki-makimu hingga lupa diri, sebelum akhirnya meninggalkanmu tanda biru di tangan dan kaki. Laki-laki yang bukannya mendukungmu untuk menggapai mimpi dan berkembang, tetapi s...

The Unspoken Words

Tuk tuk. Aku mengetuk layar tabletku dua kali. Tiba-tiba muncul wajahnya yang sedang tersenyum jahil dalam tampilan aplikasi video call. Lalu tidak sampai tiga detik, suara khasnya terdengar membuka percakapan. "Halo!" 'Hai, Ferdinan Barasa.' "Oh yang benar saja! Berhentilah merengut seperti itu, kau sangat jelek." 'Aku kesal hari ini.' Tawanya yang ramah dan hangat itu kemudian memenuhi seluruh ruang di telingaku. "Baiklah aku minta maaf. Yah, walaupun aku sudah melakukannya tadi, tapi sekali lagi maafkan aku ya?" 'Iya. Aku sudah memaafkanmu berkali-kali.' "Jadi, bagaimana harimu?" 'Aku kesal pada orang-orang yang merekam vokalis yang sedang bernyanyi saat menyaksikan konser secara langsung. Apalagi hanya untuk di upload di Instagram Story. Maksudku, jika pada akhirnya mereka tetap menonton dari layar ponsel, untuk apa mereka datang kesana? Bukankah sama saja dengan melihat video klipnya di Youtu...

Aku dan Ponselnya

Aku yakin ia memegang ponselnya seharian. Meskipun katanya sangat sibuk hingga tak sempat makan. Aku yakin setiap ada chat masuk, ponsel miliknya akan berbunyi. Meskipun katanya notifikasi pesan miliknya tidak berfungsi. Aku yakin ia sadar ketika pop-up bertuliskan namaku muncul di atas. Meskipun katanya pesanku tertimbun oleh grup dan broadcast OA tidak jelas. Aku takkan salahkan dia yang beralasan. Bukankah memang itu resikonya ketika kita menaruh harapan? Harapan pada seseorang yang membuat kita membalas pesannya cepat, ketika ia membacanya saja kalau sempat. —Lian "Pahamilah bahwa rumahmu itu ditinggali banyak orang, bukan hanya kamu seorang."

Prespektif

1. "Aku mau beli es krim mcd" "Aku tebak, mc flurry choco oreo?" Senyumku langsung merekah ketika ia menyebutkan salah satu varian rasa es krim terenak itu. Bagaimana mungkin ia tahu kesukaanku? 2. "Awas hati-hati! Sini tanganmu!" "Tidak usah, aku bisa sendiri" Padahal tangga itu tampak mudah untuk dinaiki, mengapa ia memaksa memegang tanganku? 3. "Ayo kamu makan! Mau aku pesankan?" "Tidak, aku belum lapar" Aku berpura-pura batuk untuk menyembunyikan senyumku. Benarkah dia baru saja menyuruhku untuk makan? 4. "Aku ngga mau jalan sebelum safety belt-mu dipakai." "Iya" Lalu, kutengokkan kepalaku ke arah jendela mobil. Padahal, kami hanya akan pergi ke minimarket depan. Apa yang membuat ia begitu perhatian? 5. "Jangan terlalu capek, nanti kamu sakit!" "Iya" Tangannya langsung melingkar di pundakku, setelah sebelumnya mengacak-acak rambutku. Apakah ia tengah ...

Nanti

Empat bulan lalu aku tersadar dengan badan penuh lebam Mereka bilang aku berteriak tanpa ampun semalam Memaksa mereka harus menahan tubuhku dengan tangan-tangan Agar aku berhenti dan tidak melawan Satu bulan lalu aku tersadar dengan tangan penuh darah Mereka bilang aku menyayat nadi dengan penuh amarah Membuat aku harus pergi ke luar menggunakan lengan panjang Agar penutup lukanya tak kasat oleh mata orang-orang Tiga minggu lalu aku tersadar dengan kaki yang hampir patah Mereka bilang aku melompat dari tebing ke dataran yang lebih rendah Membuat mereka harus ikut turun ke jurang Berguling menarikku yang tak berhenti menyerang Lima hari lalu aku tersadar dengan muka yang pucat pasi Mereka bilang aku baru saja menempuh 10 kilometer dengan berjalan kaki Untuk mencari letak tempat yang kukunjungi setiap hari Membuat mereka harus membantuku untuk mengingat-ingat Segala hal yang sejatinya sudah melekat Dalam jasad ini hidup dua jiwa berdampingan Dengan prespektif yang be...

Laporan Pertanggungjawaban: Edukasi Korupsi Sejak Dini?

Masih teringat jelas di benak saya, ketika pertama kali diminta untuk mengajukan laporan pertanggungjawaban dari program kerja perdana yang telah diamanahkan kepada saya kepada birokrasi, ketika saya terdaftar sebagai pengurus suatu organisasi. Organisasi tersebut adalah organisasi pertama yang saya ikuti sebagai mahasiswa, yang berarti kali pertama pula saya membuat laporan pertanggungjawaban. “Ini saya sudah rekap dan nota-notanya sudah saya tempel, Mbak. Sisanya Rp 1.000.000,- dari total anggaran yang sudah dicairkan.“ “Oh, tetap kamu LPJ-kan sesuai dengan jumlah yang dicairkan saja ya. Pakai nota-nota kosong aja, kamu isi sendiri.” “Maksudnya dipalsukan, Mbak?” “Iya. Nanti setelah diterima sisa uangnya kalau bisa diberikan ke saya ya. Untuk tambahan program kerja yang lain.” “Memang kalau berbohong tidak apa-apa, Mbak?” “Ya habis mau gimana, daripada tidak diterima.” Dan semenjak saat itu, saya baru menyadari kalau lingkaran setan ini benar-benar ada. Suatu perilaku yang s...