Posts

Perihal Merendahkan

“Sumpah Ketua Pelaksana nya Mas X? Udah pasti deh bakal ancur acaranya” “Duh masa Mbak Y sih yang jadi Ketua Bidang? Dia kan orangnya gitu!” “Tadinya sih mau daftar, tapi ngelihat Kepala Departemen nya Mas Z jadi males! Gajadi deh!” “Sumpah ya, Mbak A tuh gak bisa ngapa-ngapain! Gak guna jadi Ketua!” Kalimat-kalimat di atas tentu terdengar sangat familiar di telinga, bukan? Hampir pada setiap program kerja, rapat, atau saat ngopi-ngopi ringan, pasti ada dua atau tiga orang yang melontarkannya. Rasa tidak percaya terhadap individu memang merupakan hal yang lumrah dan sering terjadi dalam suatu organisasi dan kepanitiaan.  Hanya saja, akhir-akhir ini saya lebih sering mendengarnya, hingga memutuskan untuk sedikit memberikan tanggapan. Karena yang membuat saya heran, kalimat tersebut tidak hanya keluar dari mulut angkatan termuda, bahkan angkatan yang sudah bangkotan saja masih ada yang berpikiran seperti itu! Tidak munafik, saya pun pernah mengucapkan kalimat-kalimat ters...

Saya Tidak Jatuh Cinta

Saya tidak tahu persis bagaimana cara mendefinisikan penyebab badai dan petir yang menyambar di dalam kepala saya ini. Namun, yang jelas jika kamu meminta saya untuk menemanimu untuk membeli teh kotak di Indomaret terdekat, saya akan membatalkan semua rapat yang mungkin ada pada menit yang sama. Dan saya akan berkata dosen saya tidak datang, ketika kamu mengajak saya untuk melihat-lihat buku-buku tua di pinggiran kota. Jika kelak kamu mengharapkan saya berada di dalam kursi penonton untuk mendukungmu menggiring bola, saya akan dengan senang hati datang ke seluruh pertandingan yang akan kamu lalui, sambil membawakan minuman kesukaanmu. Dan saya akan berkata saya tidak mengantuk, sekalipun saya belum tidur karena kelelahan menulis laporan, ketika kamu meminta saya untuk tetap terjaga dan mendengarkanmu bercerita. Saya hanya benar-benar tidak ingin kehilangan kamu. Bukan, ini bukan kisah roman picisan tentang dua insan yang sedang berbunga-bunga. Karena bagiku, menjal...

Setuju atau Tidak Itu Urusanmu

“Menurutmu mengapa harus ada kolom agama di dalam Kartu Tanda Penduduk?” Bening hampir tersedak potongan kecil kentang goreng yang baru saja dibelinya di Kafeteria ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh lawan bicaranya itu. Ia terbatuk-batuk lalu meneguk sebotol air mineral, sebelum akhirnya menimpali lawan bicaranya. “Pertanyaanmu selalu aneh-aneh, Li. Tak bisakah kamu menerima satu hal saja dengan lapang dada, tanpa perlu bertanya bagaimana asal-usulnya?” Lia, lawan bicara Bening saat ini, yang juga merupakan teman baik Bening, mengernyitkan dahi sambil mengikat ulang rambutnya yang hampir lepas. Lia memang sangat suka melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang jarang terpikirkan oleh orang-orang seusia mereka, sampai-sampai terkadang Bening lelah untuk menanggapinya. Seperti sekarang, disaat kepala Bening masih mendidih akibat soal-soal kuis Akuntansi Biaya yang baru saja ia selesaikan setengah jam lalu, Lia kembali menanyakan satu dari pertanyaan-pertanyaan aj...

Saya, Seni, dan Teknik

Saya tidak terlalu suka pada pembinaan. Saya tidak bisa berforum, menyusun suatu konsep, menanamkan nilai-nilai, atau menyusun latar belakang dan memilih metode serta alur untuk mengarahkan anak orang. Agak aneh memang, karena tipikal “orang-orang teknik” menurut pandangan khalayak adalah orang yang seperti saya sebutkan di atas. Mungkin itu sebabnya mengapa saya tidak pernah disebut “orang teknik”, karena apa yang saya kerjakan di tempat ini bukan termasuk hal yang ingin dilihat oleh orang banyak, dan dianggap sebagai stereotipe teknik; angkatan, lembaga, senior, terutama dari jurusan saya. Harusnya tulisan ini bukan tentang saya, tetapi rasa-rasanya tidak sopan jika saya langsung menceritakan suatu kisah tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu. Lagipula, antara saya dan apa yang ingin saya kisahkan juga saling berkesinambungan. Nama saya Putri Rahayu, sebenarnya panggilannya Putri. Namun, karena username instagram saya yang sepertinya unik, beberapa orang memanggil saya Pux....

Biarkanlah

Biarkanlah aku mengiris bulan, Agar si pungguk tak lagi merindukannya Biarkanlah aku menenggak hujan, Agar bunga-bunga tak lagi membutuhkannya Biarkanlah aku menyapu lautan, Agar pelaut tak lagi tenggelam dipelukannya Maka biarkanlah kubunuh rasa kasmaran, Agar hati tak lagi patah karenanya (2016)

Kembali

kata orang, selama kau cinta, celaka pun tampak sempurna kata orang, selama kau ikhlas, cemooh pun tak membuatmu terbatas kata orang, selama kau niat, setitik pun tak terasa penat aku tak akan berkata ini semua hanya sajak pelipur lara aku berhipotesa bahwa semua hal butuh massa tak terkecuali ketika kau niat, ikhlas, atau cinta lalu bagaimana jika ide-ide gila dikepala ini selalu kalah oleh tupoksi? terkubur jauh-jauh dalam lubang bernama tradisi ketika mencoba lahir selalu gagal dan mati mereka bilang, ingatlah pada rumah yang membuat raga berdiri tegak di atas tanah dan jika mereka  berniat membuatku terbang mengapa mereka  juga yang mengurung aku di dalam kandang? orisinalitas memang pantas dipertahankan tetapi bukankah laporan praktikum-mu saja tak luput dari revisian? coba pahami lagi makna denotasi dari "tradisi" atau jangan salahkan aku jika aku tak kembali

Gembala Domba

Untuk apa meraih bintang, jika menjadi debu saja sanggup membawamu pulang? Untuk apa menanti senja, jika pagi saja tak tega membuatmu durja? Untuk apa bermimpi menjadi merpati, jika menjadi ayam pun tak membuatmu mati? Engkau mengajarkan aku bahwa suatu perkara tak hanya dapat terselesaikan dengan solusi Engkau menyadarkan aku tentang keindahan menerima tatkala aku sibuk mencari Engkau menganjurkan aku untuk menutup pintu ketika aku bersikeras untuk membukanya Terkutuklah aku jika mengaku tak terlena dengan segala puji-pujianmu Hinalah aku jika mengaku tak bahagia tatkala menangkap senyummu Munafiklah aku jika mengaku telah melupakan saat kita pertama berbalas kata Hari telah senja, dan domba sudah kembali ke dalam kandangnya Apakah aku harus tinggal dan menunggu kau datang membawa domba lainnya, wahai Gembala? Jika kau hendak menjawab ya, maka aku memilih untuk hilang dan pergi sejauh-jauhnya Agar kelak kau akan pergi mengejarku lebih lama lagi M e n g a ...