Posts

Setuju atau Tidak Itu Urusanmu

“Menurutmu mengapa harus ada kolom agama di dalam Kartu Tanda Penduduk?” Bening hampir tersedak potongan kecil kentang goreng yang baru saja dibelinya di Kafeteria ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh lawan bicaranya itu. Ia terbatuk-batuk lalu meneguk sebotol air mineral, sebelum akhirnya menimpali lawan bicaranya. “Pertanyaanmu selalu aneh-aneh, Li. Tak bisakah kamu menerima satu hal saja dengan lapang dada, tanpa perlu bertanya bagaimana asal-usulnya?” Lia, lawan bicara Bening saat ini, yang juga merupakan teman baik Bening, mengernyitkan dahi sambil mengikat ulang rambutnya yang hampir lepas. Lia memang sangat suka melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang jarang terpikirkan oleh orang-orang seusia mereka, sampai-sampai terkadang Bening lelah untuk menanggapinya. Seperti sekarang, disaat kepala Bening masih mendidih akibat soal-soal kuis Akuntansi Biaya yang baru saja ia selesaikan setengah jam lalu, Lia kembali menanyakan satu dari pertanyaan-pertanyaan aj...

Saya, Seni, dan Teknik

Saya tidak terlalu suka pada pembinaan. Saya tidak bisa berforum, menyusun suatu konsep, menanamkan nilai-nilai, atau menyusun latar belakang dan memilih metode serta alur untuk mengarahkan anak orang. Agak aneh memang, karena tipikal “orang-orang teknik” menurut pandangan khalayak adalah orang yang seperti saya sebutkan di atas. Mungkin itu sebabnya mengapa saya tidak pernah disebut “orang teknik”, karena apa yang saya kerjakan di tempat ini bukan termasuk hal yang ingin dilihat oleh orang banyak, dan dianggap sebagai stereotipe teknik; angkatan, lembaga, senior, terutama dari jurusan saya. Harusnya tulisan ini bukan tentang saya, tetapi rasa-rasanya tidak sopan jika saya langsung menceritakan suatu kisah tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu. Lagipula, antara saya dan apa yang ingin saya kisahkan juga saling berkesinambungan. Nama saya Putri Rahayu, sebenarnya panggilannya Putri. Namun, karena username instagram saya yang sepertinya unik, beberapa orang memanggil saya Pux....

Biarkanlah

Biarkanlah aku mengiris bulan, Agar si pungguk tak lagi merindukannya Biarkanlah aku menenggak hujan, Agar bunga-bunga tak lagi membutuhkannya Biarkanlah aku menyapu lautan, Agar pelaut tak lagi tenggelam dipelukannya Maka biarkanlah kubunuh rasa kasmaran, Agar hati tak lagi patah karenanya (2016)

Kembali

kata orang, selama kau cinta, celaka pun tampak sempurna kata orang, selama kau ikhlas, cemooh pun tak membuatmu terbatas kata orang, selama kau niat, setitik pun tak terasa penat aku tak akan berkata ini semua hanya sajak pelipur lara aku berhipotesa bahwa semua hal butuh massa tak terkecuali ketika kau niat, ikhlas, atau cinta lalu bagaimana jika ide-ide gila dikepala ini selalu kalah oleh tupoksi? terkubur jauh-jauh dalam lubang bernama tradisi ketika mencoba lahir selalu gagal dan mati mereka bilang, ingatlah pada rumah yang membuat raga berdiri tegak di atas tanah dan jika mereka  berniat membuatku terbang mengapa mereka  juga yang mengurung aku di dalam kandang? orisinalitas memang pantas dipertahankan tetapi bukankah laporan praktikum-mu saja tak luput dari revisian? coba pahami lagi makna denotasi dari "tradisi" atau jangan salahkan aku jika aku tak kembali

Gembala Domba

Untuk apa meraih bintang, jika menjadi debu saja sanggup membawamu pulang? Untuk apa menanti senja, jika pagi saja tak tega membuatmu durja? Untuk apa bermimpi menjadi merpati, jika menjadi ayam pun tak membuatmu mati? Engkau mengajarkan aku bahwa suatu perkara tak hanya dapat terselesaikan dengan solusi Engkau menyadarkan aku tentang keindahan menerima tatkala aku sibuk mencari Engkau menganjurkan aku untuk menutup pintu ketika aku bersikeras untuk membukanya Terkutuklah aku jika mengaku tak terlena dengan segala puji-pujianmu Hinalah aku jika mengaku tak bahagia tatkala menangkap senyummu Munafiklah aku jika mengaku telah melupakan saat kita pertama berbalas kata Hari telah senja, dan domba sudah kembali ke dalam kandangnya Apakah aku harus tinggal dan menunggu kau datang membawa domba lainnya, wahai Gembala? Jika kau hendak menjawab ya, maka aku memilih untuk hilang dan pergi sejauh-jauhnya Agar kelak kau akan pergi mengejarku lebih lama lagi M e n g a ...

Hujan (part 2)

"Badai.. Badai.. Cepat masuk dan berlindung!" dan aku tak mengindahkannya. "Apa yang kelak akan kau terima, yang kiranya sepadan dengan segala kebodohan yang kau lakukan kini, wahai makhluk penantang badai?" dan aku tetap berdiri kokoh menantikan getirnya. "Jangan terlalu naif, wahai makhluk yang terlalu percaya pada rintik-rintik tangisan langit! Kini, esok, atau seratus tahun dari sekarang surga nya tak akan pernah menjadi surga mu!" dan bodohnya aku masih percaya akan bahagia. Tulisan ini ditujukan kepada hujan,  yang tak hanya membasahi tanah penuh humas, atau menyuburkan bunga-bunga indah di atas bumiku, tetapi juga membuatnya tergenang air, dan membuat tebing-tebing pertahananku longsor, Tulisan ini ditujukan kepada hujan, yang terlihat sangat ramah dan mampu kurengkuh, tetapi kontra dengan realita yang adalah sebaliknya Karena ketika badai itu datang, aku benar-benar mati. Aku tak bisa membedakan ...

Hujan (part 1)

"Dan kuharap, menjadi bagianmu. Ku bisa gila, tak berharap Dan kuharap, menjadi harapanmu. Ku bisa gila..." Matanya. Demi Tuhan, semua surga yang aku bayangkan dalam benakku tergambar secara isometri dalam keindahan matanya. Seperti bulir-bulir air yang jatuh dari langit yang mendung. Dan aku tengah menikmati gigilan serta kertak gigi yang sengaja diciptakan karenanya. Herankah dirimu? Padahal kukira bentuk surga itu tergambar apik bak bintang, pelangi, atau matahari yang mampu membuat orang tersenyum dan mengeluarkan kata pujian. Tetapi ternyata surga di matanya lebih dari sekedar itu. Terlalu nyata menyaingi sinar matahari, terlalu gelap menyaingi terangnya bintang, terlalu muram menyaingi cerianya pelangi. Itulah surgaku. Hujan. Pernahkah kalian memandang langit dan menantang namanya?  Atau bersikap sarkastik karena merasa sangat dirugikan karenanya? Jika ya, maka enyahlah dirimu! Kamu tidak tau betapa dahaganya diriku akan airnya! Salahkah j...